Thursday, 7 May 2020

Makalah Kimia - Permanganometri


I.       PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang

Dalam kegiatan laboratorium, kita sering sekali melakukan titrasi. Titrasi biasanya dilakukan untuk membuat larutan standar dengan menggunakan titran, titrat, dan indikator bila diperlukan. Metode titrasi dilakukan berdasarkan pengukuran volume. Salah satu metode titrasi yang cukup sering dilakukan yaitu titrasi permanganometri. Titrasi permanganometri didasarkan pada reaksi oksidasi ion permanganat. Titrasi ini dilakukan dengan menggunakan kalium permanganat sebagai titran. Dimana kalium permanganat merupakan oksidator kuat sehingga dapat untuk penetapan kadar zat. Umumnya titrasi permanganometri dilakukan dalam suasan asam karena pengamatan titik akhir titrasi akan lebih mudah dilakukan. Permanganometri dapat digunakan untuk penentuan kadar bese, kalsium, hidrogen peroksida.

Pereaksi kalium permanganat bukan merupakan larutan baku primer dan karenanya perlu dibakukan terlebih dahulu. Kalium permanganate dapat dibakukan dengan natrium oksalat yang merupakan standar primer yang baik untuk permanganat dalam larutan asamSenyawa ini mempunyai derajat kemurnian yang tinggi, stabil pada pengeringan dan tidak mudah menguap. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai titrasi permanganometri, maka dilakukanlah percobaan ini.


1.2  Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:
1.    Memahami prisip dasar titrasi permanganometri.
1.      Menentukan kenormalan Fe2+ dengan cara titrasi permanganometri.
II.    TINJAUAN PUSTAKA



Larutan baku KMnO4 dibuat dengan melarutkan sejumlah Kalium Permanganat dalam air, mendidihkannya selama delapan jam atau lebih, kemudian saring endapan MnO2 yang terbentuk, lalu dibakukan dengan zat baku utama.  Zat baku utama yang lazim dipakai adalah Natrium Oksalat. Reaksi yang terjadi pada proses pembakuan tersebut adalah sebagai berikut : 

  5C2O42- + 2MnO42- + 16H+ → 2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O

Titik titrasi akhir ditandai dengan timbulnya warna merah muda yang disebabkan oleh kelebihan Permanganat (Rivai, 1995).

Untuk pengasaman sebaiknya dipakai asam sulfat, karena asam ini tidak menghasilkan reaksi samping. Sebaliknya jika dipakai asam klorida dapat terjadi kemungkinan teroksidasinya ion klorida menjadi gas klor dan reaksi ini mengakibatkan dipakainya larutan permanganat dalam jumlah berlebih. Meskipun untuk beberapa reaksi dengan arsen (II) oksida, antimoni (II) dan hidrogen peroksida, karena pemakaian asam sulfat justru akan menghasilkan beberapa tambahan kesulitan.

Kalium pemanganat adalah Lihat Selengkapnya.

No comments:

Post a comment