Saturday, 9 May 2020

Makalah Kimia - Titrasi Asam Basa

I.       PENDAHULUAN
                                 

1.1  Latar Belakang

Konsep paling mendasar dan praktis dalam kimia asam basa tidak diragukan lagi adalah reaksi netralisasi. Netralisasi dapat didefinisikan sebagai reaksi antara proton dan ion hidroksida membentuk air.

Untuk mengetahui konsentrasi dari suatu asam ataupun basa, kita dapat menggunakan metode kimia untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan menjadi titrasi asam basa, titrasi redoks, dan titrasi kompleksometri. Titrasi asam basa sendiri terbagi menjadi titrasi asidimetri dan titrasi alkalimetri.

Dalam proses titrasi, ada beberapa hal yang harus diketahui dan diperhatikan yaitu indikator titrasi, titik ekuivalen, dan titik akhir evaluasi. Untuk mengetahui lebih lanjut lagi mengenai titrasi asam  basa ini, dan menentuka suatu konsentrasi larutan termasuk asam kuat ataukah basa kuat, maka dilakukanlah percobaan ini.


1.2  Tujuan Percobaan

Adapun tujuannya dilakukan percobaan ini adalah agar mahasiswa dapat menentukan konsentrasi suatu larutan asam atau basa kuat melalui titrasi.


II.    TINJAUAN PUSTAKA


Standarisasi dapat dilakukan dengan titrasi. Titrasi merupakan proses penentuan konsentrasi suatu larutan dengan mereaksi larutan yang ada dan sudah diketahu konsentrasinya (larutan standar). Titrasi asam basa adalah suatu titrasi dengan menggunakan reaksi asam basa (reaksi penetralan). Prosedur analisis pada titrasi asam basa ini adalah dengan volumemetri yaitu mengukur volume dari suatu asam atau basa yang bereaksi (Syukri, 1999).

Pada saat terjadi perubahan warna indikator, titrasi dihentikan, Indikator berubah warna pada saat titik ekuivalen. Pada titrasi asam basa, dikenal istilah titik ekuivalen dan titik akhir titrasi. Titik ekuivalen adalah titik pada proses titrasi ketika asam dan basa tepat habis bereaksi. Untuk mengetahui titik ekuivalen digunakan indikator. Saat perubahan warna terjadi, saat itu disebut titik akhit titrasi.

zat yang digunakan untuk larutan standar primer harus memenuhi persyaratan berikut :
1.      Mudah diperoleh dalam bentuk murni maupun dalam keadaan yang diketahui kemurniannya.
2.      Harus stabil
3.      zat ini mudah dikeringkan, tidak higroskopis sehingga tidak menyerap uap air, tidak menyerap CO2 pada waktu penimbangan (Sukmariah, 1990).

Titik ekuivalen ialah tiitik pada saat jumlah mol ion OH- yang ditambahkan ke dalam larutan sama dengan jumlah ion Hyang semula ada. jadi untuk menentukan titik ekuivalen dalam suatu titrasi, kita harus mengetahui dengan tepat berapa volume basa yang ditambahkan dari buret ke asam yang ada dalam labu. Salah satu cara untuk menentukan tujuan ini adalah dengan menambahkan beberapa tetes indikator asam-basa ke larutan asam saat awal titrasi.Indikator biasanya ialah biasanya suatu asam atau basa organic lemah yang menunjukkan warna yang sangat berbeda antara bentuk tidak terionisasi dan bentuk terionisasinya. Kedua bentuk ini berkaitan dengan pH larutan yang melarutkan indikator tersebut.

Titik akhir titrasi terjadi bila indikator berubah warna. Namun, tidak semua indikator berubah warna pada pH yang sama, jadi pilihan indikator untuk titrasi tertentu bergantung pada sifat asam dan basa yang digunakan dalam titrasi (Chang, 2001).

Titik asidimietri dan alkalimetri menyangkut reaksi dengan asam dan basa diantara :
1.      Titrasi yang melibatkan asam kuat dan basa lemah
2.      Titrasi yang melibatkan asam lemah dan basa kuat
3.      Titrasi yang melibatkan asam lemah dan basa lemah.
Titrasi asam lemah dan basa kemah dirumitkan oleh terhidrolisinya kation adan anion dari garam yang terbentuk (Oxtoby, 2001).Lihat Selengkapnya...

No comments:

Post a comment