Life is Chemistry and There is No Life Without Chemistry

Selasa, 24 Januari 2017

Laporan Praktikum KENAIKAN TITIK DIDIH LARUTAN DAN PENURUNAN TITIK BEKU LARUTAN - Kimia Dasar




KENAIKAN TITIK DIDIH LARUTAN
DAN PENURUNAN TITIK BEKU LARUTAN
(Laporan Praktikum Kimia Dasar II)




Oleh
Zelda Amini
1513023006







LABORATORIUM PEMBELAJARAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2016


LEMBAR PENGESAHAN

Judul Percobaan          : Kenaikan Titik Didih Larutan dan Penurunan Titik Beku 
                                      Larutan

Tanggal Percobaan      : 7 Juni 2016

Tempat Percobaan       : Laboratorium Pembelajaran Kimia

Nama                           : Zelda Amini

NPM                           : 1513023006

Fakultas                       : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Jurusan                        : Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Program Studi             : Pendidikan Kimia

Kelompok                   : 4 (Empat)


Bandar Lampung, 7 Juni 2016           
Mengetahui,                                       
Asisten                                               




I.       PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan pemanasan air hingga mendidih . Kita ketahui bahwa air mendidih/panas tentunya memiliki suhu yang tinggi atau suhu saat tepat air mendidih. Di dalam ilmu kimia, kenaikan titik didih yaitu suhu dimana tekanan uap sebuah zat cair sama dengan tekanan eksternal yang dialami oleh cairan.

Selain kenaikan titik didih, kita juga mengenal istilah penurunan titik beku. Kenaikan titik didih maupun penurunan titik beku sama-sama dipengaruhi oleh zat terlarrutnya. Zat terlarut yang berbeda-beda tentunya memiliki titik didih maupun titik bekunya. Untuk memahami dan mengetahui bagaimana zat terlarut mempengaruhi titik didih dan titik beku larutan. Maka dilakukanlah percobaan mengenaikan kenaikan titik didih larutan dan penurunan titik beku larutan ini.


1.2  Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah agar mahasiswa dapat menjelaskan hubungan antara zat terlarut terhadap titik didih dan titik beku larutan.



II.    TINJAUAN PUSTAKA


Sifat koligatif larutan adalah sifat yang disebabkan hanya oleh kebersamaan (jumlah partikel) dan bukan oleh ukurannya. Zat terlarut mempengaruhi sifat larutan, dan besarnya pengaruh bergantung pada jumlah partikel tersebut. Besarnya kenaikan titik didih dan penurunan titik beku bergantung pada konsentrasi zat terlarut (Syukri, S. 1999)

Penurunan titik beku berbanding lurus dengan penurunan tekanan uap, atau berbandingnya lurus dengan fraksi mol dan untuk larutan encer, keseimbangan ini dapat dianggap berlaku pula terhadap molalitas.

tb = Kb . m
td = Kd. m
 


Dalam persamaan ini      td dan       tb artinya penurunan titik beku dan kenaikan titik didih, m adalah molalitas, kb dank d masing-masing adalah tetapan turunan titik beku molal dan tetapan naik titik didih molal. Tetapan turun titik beku ini disebut juga krioskopik dan tetapan naik titik didih disebut ebulioskopik (Petrucci, 1987).

Apabila suatu pelarut ditambah dengan sedikit zat terlarut, maka akan didapat suatu larutan yang mengalami :
1.      Penurunan tekanan uap jenuh
2.      Kenaikan titik didih
3.      Penurunan titik beku
4.      Tekanan osmosis

Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat larutan itu sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion (Chang, 2003).

Cairan akan mendidih ketika tekanan uapnya menjadi sama dengan tekanan udar luar. Titik didih cairan pada tekanan udara 760 mmHg disebut titik didih standar atau titik didih normal. Jadi yang dimakud dengan titik didih adalah suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan itu sama dengan tekanan udara luar (tekanan pada permukaan cairan).

Telah dijelaskan bahwa tekanan uap larutan lebih rendah dari ttekanan uap pelarutnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu mengurangi bagian atau fraksi dari pelarut sehingga penguapan berkurang. Apabila sebuah larutan mempunyai tekanan uap yang tinggi pada suhu tertentu. Maka molekul-molekul yang berada dalam larutan tersebut mudah untuk melepaskan diri dari permukaan larutan. Atau dapat dikatakan pada suhu yang sama sebuah larutan mempunyai tekanan uap yang rendah (Atkins, 1994).



III. METODOLOGI PERCOBAAN


3.1  Alat dan Bahan

Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah 2 buah gelas kimia 250 ml, 3 buah tabung reaksi, 1 buah kaki tiga + kasa, 1 buah gelas kimia 1000 ml, 1 buah statif + klem, 1 buah thermometer, dan 1 buah pembakar spritus.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah air suling secukupnya, 200 ml NaCl 1M dan 2M, 200 ml larutan urea 1M dan 2M, benang secukupnya, es batu secukupnya, 1 buah batang pengaduk, dan garam dapur secukupnya.


3.2  Prosedur Percobaan

Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah :
A.    Kenaikan titik didih larutan
1.      memasukkan 100 ml ke dalam gelas kimia 200 ml, lalu memanaskan. Mencelupkan thermometer ke dalam air yang mendidih, mencatat suhunya
2.      mengulangi langkah 1 dan 2 dengan larutan gula dan larutan NaCl sebagai pengganti air suling. kemudian mencatat suhunya.
3.      Mengisi tabel dan menghitung perubahan titik didih larutan dan dibandingkan titik didih air.
B.     Penuruna titik beku larutan
1.      Menyediakan gelas kimia 1000 ml, memasukkan ke dalamnya es batu yang telah dihancurkan sampai volume 700 ml, menambahkan 8 sendok garam dapur
2.      mengisi tabung reaksi dengan air suling setinggi 4 cn. Memasukkan pengaduk kaca ke dalam tabung reaksi dan menggerakkan pengaduk dalam air sampai air membeku seluruhnya.
3.      mengeluarkan tabung itu dari campuran pendingin, membiarkan es dalam tabung mencair sebagian. Mengganti pengaduk dengan thermometer. Mengaduk hati-hayi air dalam tabung dengan thermometer. Membaca thermometer dan mencatat suhunya
4.      Mengulangi langkah 2 dan 3 dengan larutan urea dan Nacl sebagai pengganti air suling. Mecatat suhunya.
5.      Mengisi tabel dan menghitung perubahan titik beku larutan dibandingkan titik beku air.



IV. PEMBAHASAN


4.1  Pembahasan

Sifat kologatif larutan adalah sifat suatu larutan encer yang hanya bergantung pada jummlah partikel zat terlarut dan tidak bergantung pada jenis zat terlarut. Jenis-jenis dari sifat koligatif terbagi menjadi empat yautu kenaikan titik didih larutan, penurunan titik beku larutan, tekanan osmotikk, da penurunan tekanan uap. KEnaikan titik didih yaitu suhu dimana tekanan uap suatu cairan sama dengan tekanan udara luar. Penurunan tekanan uap larutan menyebabkan titik didih larutan lebih tinggi dari titik didih pelarut. Lalu titik beku adalah suhu dimana suatu cairan mulai membeku. Penurunan tekanan uap larutan menyebabkan titik beku larutan lebh rendah dari titik beku pelarut. Tekanan osmosis adalah tekanan yang dibutuhkan untuk mencegah terjadinya osmosis. Osmosis itu sendiri adalah mengalirnya molekul-molekul pelarut dari pelarutan encer ke larutan yang lebih pekat melalui membrane semipermeabel. Selanjutnya tekan uap jenuh larutan, tekanan uap jenuh larutan adalah tekanan yang menunjukkan kecendrungan suatu cairan untuk menguap. Adanya zat terlarut menyebabkan pelarut lebih sukar menguap. Adanya zat terlarut menyebabkan pelarut lebih sukar menguap, sebab sebagian permukaannya tertutup oleh zat terarut.

Pada percobaan ini pengaruh zat terlarut terhadap titik didih adalah adanya zat terkarut mengakibatkan adanya gaya tarik antar molekul yang semakin sulit untuk diputuskan. Akibatnya titik didih larutan lebih tinggi daripada titik didih pelarut. adanya zat terlarut juga mempegaruhi penurunan titik beku yaitu zat terlarut akan mengganggu molekul-molekul pelarut murni untuk berikatan. Akibatnya titik beku larutan lebih rendah dibandingkan titik beku pelarut.
Jika dibandingkan antara dataran tinggi dan dataran rendah, jika air dipanaskan pada dua daerah tersebut akan lebih cepat mendidih pada dataran tinggi. Karena, semakin tinggi dataran, air akan semakin cepat mendidih. hal ini disebabkan tekanan pada dataran tinggi lebih rendah daripada tekanan pada dataran rendah. Kenaikan titik didih pada dataran tinggi lebih tinggi daripada dataran rendah.

Pada sifat kolgiatif larutan menggunakan molalitas sebagai satuan konsentrasinya. Hal ini disebabkan karena tidak seperti olaritas, molalitas tidak bergantung pada suhu.

Percobaan ini berkaitan dengan hukum Rault. Hukum Rault berbunyi : “Tekanan uap larutan ideal dipengaruhi oleh tekanan pelarut dan fraksi mol zat terlarutt yang tergantung dalam larutan tersebut”.

Adapun aplikasi kenaikan titik didih dan penurunan titik beku dalam kehidupan sehari-hari adalah pada kenaikan titik didih seperti saat memasaka sayur santan, maka suhunya akan lebih tinggi daripada titik didih air. Selanjutnya penyulingan komponen-kompnen minyak bumi, dan kandungan garam di laut yang tinggi. Sedangkan pada penurunan titik beku seperti penggunan etilen glikol pada radiator dan penggunaan garam dapur dapur untuk pembuatan es krim.



V.    KESIMPULAN


Berdasarkan hasil percobaan, maka dapat disimpulkann :
1.      Adanya zat terlarut yang mengakibatkan adanya gaya tarik antar molekul yang semakin sulit untuk diputuskan, sehingga titik didih larutan lebih tinggi daripada pelarut.
2.      adanya zat terlarut yang akan mengganggu molekul-molekul pelarut murni untuk berikatan, akibatnya titik beku larutan lebih kecil dibandingkan titik beku pelarut.
3.      Semakin tinggi dataran, maka air akan lebih cepat mendidih karena tekanannya semakin rendah.
4.      Pada sifat koligatif larutan menggunakan molalitas, karena molalotas tidak bergantung pada suhu.
5.      Penambahan es batu dan garam berfungsi untuk menurunkan titik beku larutan.
6.      Fungsi pemanasan pada percobaan yaitu untuk mengetahui kenaikan titik didih.
7.      Fungsi pendinginan pada percobaan yaitu untuk mengetahui penurunan titik beku.


DAFTAR PUSTAKA


Atkins, PW. 1994. Kimia Fisik II. Jakarta : Erlangga

Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar Jilid 1. Jakarta : Erlangga

Petrucci, 1987. Kimia Dasar I. Jakarta : Erlangga


Syukri, S. 1999.  Kimia Dasar.  Bandung : ITB

2 komentar:

  1. Setya Purdiawan25 Januari 2017 00.12

    Mantab. jgn lupa berkunjung ke http;//jualruangiklan.wordpress.com

    BalasHapus
  2. lihat ini juga kak www.bagidomaingratis.com

    BalasHapus